Universitas Siber Asia

Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa

Tahun ini kita digemparkan dengan maraknya pemberitaan tentang mahasiswa bunuh diri. Di awal tahun, 24 Januari 2023 mahasiswa ditemukan bunuh diri dengan meloncat dari lantai 4, kemudian mahasiswa di Jambi ditemukan tak bernyawa di kamar kos pada tanggal 2 Maret 2023, dan kasus-kasus yang lain sampai di Oktober tahun ini ditemukan lagi kasus dugaan bunuh diri seorang mahasiswa yang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang, Jawa Tengah, pada 10 Oktober 2023. Tidak berhenti, esok harinya kembali ditemukan tidak bernyawa di kamar kos, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang. Berdasarkan Databoks, hingga 18 Oktober 2023, jumlah kasus bunuh diri di Indonesia telah mencapai 971 kasus yang mana telah melampaui kasus bunuh diri di sepanjang tahun 2022 yaitu 900 kasus. Kasus-kasus ini menunjukkan tekanan besar yang dialami oleh para mahasiswa, depresi dan kurangnya komunikasi antara korban dan orang-orang di sekitarnya diduga menjadi faktor terbesar yang mengakibatkan mereka melakukan bunuh diri.

Dikutip dari Kompas.id, anak usia 18-25 tahun memiliki kerentanan lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri, hal ini dikarenakan adanya perubahan dari kehidupan remaja menjadi kehidupan dewasa, adanya perubahan dalam bentuk fisik, tanggungjawab, dan sosial mungkin menimbulkan tekanan yang berat bagi mereka. Adanya ekspektasi yang tinggi terhadap hidup yang ideal yang mereka lihat di sosial media juga mungkin menjadi faktor yang membuat mereka merasa tertinggal. Tekanan yang para mahasiswa hadapi jika tidak bisa diuraikan ke dalam komunikasi yang sehat baik dengan orang tua, teman sejawat ataupun orang lain akan menimbulkan depresi. Depresi pada tingkat lanjut mampu menimbulkan keinginan untuk bunuh diri.

Studi yang dilakukan oleh Azmul Fuady Idham bersama timnya di jurnal psikologi Intuisi pada tanggal 29 November 2019 menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan. Dari 62 partisipan yang sebagian besar berumur 20-25 tahun dan merupakan mahasiswa di Surabaya, 58,1 persen di antaranya mengakui memiliki pemikiran atau upaya untuk mengakhiri hidupnya. Meskipun hanya sebatas pemikiran, ancaman bunuh diri ini tak boleh diabaikan. Ada responden yang memiliki jarak waktu sebelum memutuskan untuk benar-benar mencoba, namun ada juga yang melakukannya secara impulsif tanpa peringatan sebelumnya. Pemikiran tentang bunuh diri bisa berubah menjadi aksi nyata kapan saja karena pemicu kecil. Oleh karena itu, mengidentifikasi tanda-tanda ini pada tahap awal sangat krusial untuk mencegah tindakan lebih lanjut.

Kemendikbudristek mengajak semua perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan lingkungan kampus yang mendukung kesejahteraan mahasiswa, terutama mengingat meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mereka. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengejar pendidikan mereka dalam keadaan baik secara fisik, spiritual, psikologis, finansial, dan sosial. “Kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa sangat mengkhawatirkan saya. Seharusnya, kampus adalah tempat yang memenuhi prinsip SAN: Sehat, Aman, dan Nyaman. Ini mencakup kesehatan fisik, spiritual, psikologis, emosional, finansial, dan sosial,” ungkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek, Nizam, saat diwawancarai oleh Republika.co.id di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2023

UNSIA sendiri sebagai lembaga pendidikan telah menyediakan layanan e-konseling dimana para mahasiswa bisa melakukan konseling mengenai permasalahan pribadi yang mungkin mengganggu proses pembelajaran, mahasiswa juga melakukan diskusi mengenai pengembangan diri di sesi konseling ini. Jangan pernah merasa sendiri dalam menghadapi masalah, hubungi teman terdekat, orang tua, atau melakukan konseling ataupun tenaga ahli yang kalian pilih sendiri tentunya akan sangat membantu.

Kontributor : Elvira Rahmaniar Rahmi

Editor : Joko Suhariyanto, S.E.,M.M., CPOD

Referensi:

Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *